Cara Mengaplikasikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai Kurikulum Pendidikan Homeschooling

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, wasshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah ‘amma ba’du.

 


Dalam tulisan saya sebelumnya, saya memberitakan bahwa kurikulum terbaik untuk pendidikan anak-anak khususnya yang dilakukan di rumah (homeschooling) adalah kurikulum yang berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun bagi orang tua yang semasa hidupnya hanya merasa dididik di sekolah dan merasa minim dalam pengetahuan agama, tentu akan merasa galau edisi kedua. 

Meskipun begitu, berbahagialah wahai umma dan aba! Kegalauan itu adalah proses awal (yang jika dilakukan dengan keikhlasan dan kesabaran lagi berpegang teguh pada syariat Islam)  akan menjadi  wasilah (sarana) bagi umma dan aba untuk berpikir lebih serius dan beramal lebih giat untuk mewujudkan visi keluarga yang hendak meraih keberkahan dunia dan kebahagiaan akhirat.


Dan tentu, dengan kegalauan ini orang tua harus segera bermuhasabah (evaluasi) dan bertafakkur (berpikir) untuk memperbaiki masa depan keluarganya di dunia dan akhirat.

 

Sebelum mengetahui cara mengaplikasikan al-Quran dan Sunnah sebagai kurikulum dalam pendidikan di rumah, hendaknya orang tua terlebih dahulu bermuhasabah tentang sejauh mana keimanan kepada Allah dan negeri akhirat yang telah disetting dalam diri orang tua, sebagai bekal untuk mentransfer keimanan tersebut kepada anak. Juga sejauh mana pemahaman dan amaliyah hukum-hukum Islam dalam kehidupan orang tua, sebagai bekal untuk mendidik anak dengan ilmu Islam dan keteladanan yang nyata. 

Selain itu, hendaknya orang tua juga segera bertafakkur / berpikir mendalam tentang kaidah kausalitas (hukum sebab-akibat) yang dapat menghantarkan mereka menuju keberhasilan mendidik anak-anak sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Maka menjadi keniscayaan bagi orang tua untuk mempelajari kaidah amaliyah dan membuat perencanaan serta persiapan yang sedemikian rupa sebagai jalan panjang memenuhi perintah Allah Subhanahu WaTa’ala untuk beramal.


وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. At-Taubah [9] : 10)


Tak lupa, sebagai seorang manusia yang memiliki keterbatasan dan tidak memiliki daya upaya serta kekuatan kecuali yang dikehendaki oleh Allah, maka hendaknya kita bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang shahih (benar), dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah menghendaki kebaikan pada diri kita dan memudahkan langkah kita menuju cita-cita yang kita harapkan, yaitu ampunan dan surga-Nya Allah Subhanahu WaTa’ala.

Adapun cara mengaplikasikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai kurikulum pendidikan keluarga, pada mulanya akan kita dapati keniscayaan untuk bermujahadah dalam menyelami keluasan samudera ilmu yang tercurah dari Qur’anul karim dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal ini tidak mudah, namun juga tidak mustahil jika Allah memberikan kemudahan kepada kita (aamiin in syaa Allah). Oleh karena itu, orang tua harus segera mengambil bagian untuk terjun menapaki jejak ilmu tsaqofah Islam yang in syaa Allah akan membimbingnya menuju pemahaman Islam yang terpancar dari al-Qur’an dan Sunnah.

Hal ini mengharuskan adanya pengalokasian waktu khusus bagi orang tua untuk mendalami tsaqofah Islam dengan sungguh-sungguh dan intensif untuk mengejar ketertinggalan dalam memahami dan mengamalkan hukum-hukum Islam sebagai pemecahan permasalahan kehidupan. Utamanya, aqidah Islam diharuskan tertancap secara kuat dan mendalam pada diri orang tua, setelah itu orang tua diharuskan mempelajari ilmu-ilmu yang dibangun berdasarkan aqidah Islam seperti ilmu tafsir, hadits, fiqh, sirah nabi, ataupun ilmu yang dibutuhkan untuk memahami apa yang terpancar dari aqidah Islam tersebut, seperti ilmu bahasa Arab, musthalah hadits, ushul fiqh dll.


Dalam perjalanan panjang merasakan kelezatan ilmu tsaqofah Islam, orang tua harus senantiasa mengaitkan ketergantungannya hanya kepada Allah Yang Merajai Alam Semesta, yaitu dengan tawakkal dan doa sebagai ikhtiyar langit bagi seorang hamba. Setelah itu, orang tua pun hendaknya mulai menapaki sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal ikhtiyar bumi dengan menggali karya-karya para ulama yang telah terlebih dahulu membahas dan menjelaskan kandungan-kandungan al-Qur’an dan as-Sunnah yang kemudian disusun sedemikian rupa untuk membersamai perjalanan panjang mengasuh dan mendidik anak-anak kita. 

Yakinlah! Jika kita hendak mendekatkan diri dan keluarga kita menuju Allah, maka Allah akan mendekat pula kepada kita dengan wasilah pemberian petunjuk, hidayah maupun pertolongan-Nya kepada kita.

Berkaryalah wahai umma dan aba! Dengan nama Allah, berkaryalah dengan segala ikhtiyar yang bisa kita lakukan dengan potensi agung yang telah Allah berikan. Yaitu nikmat akal yang berfungsi untuk memahami apa-apa saja yang dapat terindera di bumi, yang telah Allah beritahukan sebelumnya nama-nama benda yang ada di bumi kepada nabi Adam ‘Alaihi as-Salam.


Allahu a'lam bisshawab

Komentar